Keabadian di Balik Cawan Memori
Segelas cangkir kopi hangat ini cukup untuk mengawali hari. Koran pagi juga sudah menyapa di meja. Mengusik hati tuk segera menjamahnya. Berita pagi televisi bak nyanyian burung pendatang baru, sukar tuk dilewatkan. Sementara di balik jendela, raut mentari nampak malu sebelum ia kulihat mulai berseri kini. Jajaran bunga-bunga adeniumku juga sedang terlihat sibuk menggeliat melepaskan diri dari selimut embun yang semalaman penuh menggelayuti. Ahh, memukaunya aroma pagi. Ingin kusimpan keceriaan pagi seperti ini. “Andai saja sehenyak episode pagi seperti ini bisa dipetik dan disave dalam piranti elektronik, pasti sedari dulu sudah penuh hardisk laptopku ini”, gumamku mengkhayal dalam hati. Tetapi memang, memori teramat mahal, ia tak tertebus oleh apapun. Apalagi jika memori itu terasa manis. Pasti ia lebih mahal dari emas 24 karat sekalipun.
Bicara mengenai memori memang menarik. Setiap orang pasti memilikinya. Entah itu memori manis ataupun pahit. Ilmu pengetahuan berusaha mengungkap semuanya, tentu dengan segenap teori-teori yang dibangun sedemikian rupa. Namun, sejalan dengan kutipan dalam world-mysteries.com, memori otak manusia
Read More ...


