Saat Hujan Membasahi Hati, Tukang Cukur Pun Tersenyum
Khas. Begitulah aroma hujan. Sensasional dan entah mengapa
aromanya laksana kafein saja, membuatku ingin melakukan banyak hal. Nada hujan
memang tidak semerdu musik pop, tetapi rintikannya kala menyapa genting,
menegur dedaunan di luar sana, dan saat akhirnya harus berjibaku dengan bumi
yang tak pernah haus melahap jutaan galon cucuran hujan dari atap-atap langit
seakan memberikan nuansa yang merindukan. Sejuk dan damai, sehenyak berdesir
hati ini. Mungkin hanya dua hal yang ingin kulakukan kala hujan menyapa: tidur
nyenyak dengan berselimut kehangatan, atau tetap terjaga dengan secangkir kopi
hangat di meja.
Read More ...
