Showing posts with label notes. Show all posts
Showing posts with label notes. Show all posts

29.8.09

“dirimu bak rembulan di angkasa..”


Cukup beralasan ketika banyak pria mengibaratkan paras wanita seindah rembulan. Memang di angkasa bulan terlihat indah, tapi dalam jarak dekat, sejatinya permukaan bulan tidaklah rata, penuh kawah2 curam dan sangat jauh dari kesan indah. Begitulah wanita, ketika lajang benar-benar mempesona, namun setelah didekati dan dipinang, di mata pria ia akan berubah menjadi momok yang menggetarkan bulu kuduk. Menyeramkan dan sangat ditakuti. Begitulah kiranya yang dirasakan para suami takut istri.

Bulan memang nampak indah di langit yang bersih. Apalagi dengan hamparan jutaan bintang yang berkilauan. Ketika purnama penuh, bulan memiliki performa pesona penuh. Benar-benar sangat lugas. Tak ada yang ditutup2i. Tak ada yang menolak berdecak kagum mengatakan purnama itu indah. Sedang dalam beberapa hari terakhir, bulan berpenampilan lain. Bulan sabit yang lentik nampak tersenyum centil, malu-malu menampakkan wajahnya. Sikapnya yang sembunyi-sembunyi dan memendam misteri ini malah menarik hati, menggugah rasa keingintahuan siapapun yang memandangnya. Begitulah, baik bulan sabit maupun purnama, keduanya memiliki pesona tersendiri dalam menggambarkan perempuan. Di mata pria, apa pun yang lugas dan terbuka maupun yang sedikit tertutup tentu sangatlah menarik. Keduanya benar-benar menyita hati pria. Disangkal maupun diakui, objektivitas naluriah pria memang demikian adanya.

Bulan memiliki siklus dalam peredarannya. Satu bulan siderik maupun satu bulan sinodik sama-sama menggambarkan rangkaian siklus bulan yang berulang. Dalam siklus tersebut penampakan bulan pun berlainan. Dalam tenggat purnama, bulan sangat cerah berseri. Namun saat bulan mati langit malam berasa hitam kelam, sesuai slogan; “ga ada bulan ga rame!!:p”. Begitulah pula wanita. Siklus bulanan yang mereka dapati membuat emosi diri mereka tidak stabil. Iya kalau lagi enak diajak ngobrol seperti putri dari kahyangan, kalau lagi “bad mood” hari pertama, nggak beda jauh sama ayam lagi ‘angrem’. Benar-benar m.e.n.y.e.b.a.l.k.a.n!!

Memang. Wanita unik bagai rembulan..

Read More ...

Poligamist vs poligamers

Rata PenuhDua kata yang cukup menggelitik. Berasa kata dasarnya sama? Sebenarnya tidak sama sekali. Tapi kalo dipaksain supaya sama, maknanya jadi rada kritis. Sepintas membaca keduanya, seakan kata2 ni berawal dari satu kata; poligami. Yupz. Satu kata yang menggunjing daerah abu-abu kaum perempuan.

Sebenernya kata ‘poligami’ lebih lekat pada kata ‘poligamist’ yang mana poligamist secara bahasa bolehlah diartikan sebagai ‘orang yang ber-poligami’. Sedang kata ‘poligamers’ yang notabene secara tata bahasa merupakan paduan dari awalan poli-, game, dan akhiran –er(s) lebih tepat diartikan sebagai pemain (banyak) game.. Beeh. Berasa hambar ni mbahas secara normatif. Kurang kerjaan banget ya bahas kata-kata berdasar tata bahasa. Tapi ternyata seru juga kalo kata poligamers disandingkan dengan kata ‘poligamist’... weitz! Alhasil si ‘poligamers’ terpaksa ngikut—tepatnya, diruda paksa—untuk mengadopsi ‘poligami’ sebagai kata dasarnya. Nah lo, sekarang apa kita bisa mbedain antara poligamist dengan poligamers??
Hmm, secara intuisi boleh2 saja bukan berargumentasi untuk membuat kata lebih menarik? Poligamist lekat sebagai orang yang memang berpoligami secara seharusnya. Dengan berbagai macam konsekuensi logis dan psikologisnya. Sedang poligamers berasa lebih cocok dengan orang-orang yang hanya bermain semata. Lebih berkonotasi negatif. Dimana gamers tak hanya berlingkup objek memainkan software program semata, tapi juga perasaan wanita (meski banyak juga loh wanita yang memainkan perasaan laki2, hehe. Laknatullah atas mereka!). Pokoknya laki2 yang mengutak atik agama sebagai kedok berbuat sunnah, tanpa mengindahkan kewajiban2 pasti, merupakan sebuah kejahatan besar. Duh, payah tenan dah orang ni. Yang jelas, menikahi lebih dari seorang wanita harus dalam tendensi dunia akhirat. Makanya, hati2 ya para calon2 ibu, untuk bisa lebih cerdas membedakan mana poligamist dan mana poligamers. Kalo menurutku mah lebih ashoy ‘tunggal putra-tunggal putri’, he, ganda campuran maksudnya.... ^

Read More ...

tak sebatas berjaya di got

“Jangan pernah merasa takut, yang takut hanya cecurut”. Ni kata-kata almarhum Hari Roesli dalam suatu iklan di layar kaca sekitar lima tahun yang lalu. Meski uda ‘jadul’, tapi kata-kata ini berasa menohok. Iklan pas semasa aku SMA ni simple. Tapi cukup mengena. Apalagi bagi pecundang bermental cecurut kaya aku. Walau pecundang, siapa mau dikata mirip tikus curut! Makanya kata-kata bung Hari ni terasa dalem. Sangat lekat hingga ku ingat sampe saat ini.

Tikus curut itu bukan tikus werog yang gedhe itu. Yang kekar. BMI nya overload. Yang diminati bakul2 mie ayam buat melirik sumber daging ‘ayam’-nya yang baru. Haha. Tentu cukup beralasan kalo dr.Tantoro menyuruh kita makan tuh hewan pengerat. Memang kandungan proteinnya tinggi, tapi benar-benar jauh dari sertifikat ‘halal’ MUI. Tikus curut juga tak semenarik tikus whistar yang putih itu. Yang selalu aja jadi primadona sample uji di lab-lab kesehatan. Tikus curut juga jauh beda dengan tikus rumah yang pinter loncat ma manjat itu. Tikus curut menghuni kasta terendah dalam dunia per-tikusan. Mereka tinggal di got-got yang bau. Tanpa di comberan pun mereka sudah bau dengan aroma khasnya yang memuakkan itu. Disamping memang tubuh mereka yang kecil item, jauh dari kesan mungil dan menggemaskan. Whatever. Tapi aku paling benci disamakan dengan curut.

Bukan berarti aku menghina curut lho. Tapi hidup manusia tidak bisa dikatakan seperti curut. Lagian curut mana yang bisa hidup kayak manusia. Itu dua variabel tak berhubungan. Kalau digayutkan secara radikal, akan muncul istilah humanis ‘tidak berperikemanusiaan’. Tapi penggunaan paduan keduanya dalam kontekstual yang tepat bakal memberi makna lebih. Makanya kata-kata bung Hari sangat berarti bagiku. Paling tidak hasratku lebih berkobar setelah mendengarnya. Hari ini aku ingin mengingatnya kembali lekat-lekat. Aku ingin menancapkan lagi apa yang dulu pernah ada di hati ini; S.E.M.A.N.G.A.T.K.U. Semangat irfan !!

Read More ...

cavatina feat romance de amor


Lagu “cavatina” emang lebih enak didengerin daripada “romance de amor”.

Aku bukan extremis lagu jazz, tapi aku juga tidak pro lagu classic. Tidak serta merta lagu2 jazz lebih baik daripada classic. Meski untuk lebih mudah bermain jazz seseorang sebaiknya memiliki basic penguasaan teknik-teknik lagu classic, tentu bukan berarti jazz berkasta lebih tinggi daripada classic. Semua memiliki ciri dan kekhasan masing-masing.

Note petikannya memang lebih rumit, tapi jelas bukan itu yang membuat cavatina lebih berasa di hati. Bagiku, cavatina lekat pada hal-hal rumit, dinamis, perfeksionis, sekaligus melankolis dan romantis. Sedang romance de amor sarat akan kesederhanaan, stagnansi, lugas, mudah, romantis dan apa adanya. Keduanya menampilkan sisi yang hampir berseberangan. Aku lebih suka pada hal-hal yang dinamis dan lebih rumit maka tidak keliru andai aku mengatakan cavatina lebih baik daripada romance de amor.

Sebagaimana seorang wanita lebih menyukai bunga anggrek daripada mawar, atau musisi yang lebih senang memilih gitar fender daripada gibson, terdapat kebebasan di sana. Pun dengan latar belakang alasan irasional bin emotif sekalipun. Mengingat kembali bangsa ini yang pernah (dan masih) suka berpikir emotif, aku jadi geli sendiri. Ambil saja contoh, bagaimana kualitas kepemimpinan seorang jusuf kalla masih dianggap kurang oleh rakyat daripada seorang Megawati? Rakyat kita masih mengelukan sosok Soekarno yang benar-benar disegani dunia. Soekarno yang proklamator itu hebat. Namun, adakah jaminan anaknya juga hebat? Soekarno membangun bangsa. Tapi, putrinya malah menjual (aset) bangsa. Berapa aset negara yang terjual? Satelit palapa aja yang kita bangga2kan itu turut dijual. Masyarakat pengguna web kudu ngerti ni kalo kita bergantung kabel bawah laut. Kalo selat malaka gempa, kabelnya ke”cut”, tamatlah indonesia jadi negara terpencil. Pada nggak bisa online-an lagi. Transaksi online ngadat. Bakal kayak apa ya ekonomi kita.. Nah lo, dengan track record kaya gini bagaimana megawati masih meraih suara hampir 30% rakyat kita pada pilpres kemaren? Benar-benar emotif dan tak logis.

Maka benar adanya bahwa pilihan hati mencerminkan diri. Mungkin rakyat kita masih terlalu emotif. Lebih memilih artis menjadi walikota ketimbang para politikus ulung yang mumpuni di bidangnya. Lebih bersimpati pada orang teraniaya padahal belum mengerti tendensi yang melandasi; fenomena inul & manohara. Walaupun toh sebenarnya aspek emotif memang tidak selalu lebih buruk daripada aspek rasio. Hal ini dikarenakan refleksi atas pilihan yang diambil jelas tidak 100% melukiskan keadaan diri sesungguhnya dari seseorang. Maka dari itu, boleh2 sajalah mengatakan cavatina lebih bagus daripada romance de amor. Meskipun aku suka keduanya, tapi Cavatina lebih merefleksikan diriku. Cavatina lebih menyita aspek emotifku. Tentu berdasar pada segala aspek logis dan psikologis yang kurasakan..

Read More ...

Perempuan

Sudah hampir setahun aku berkepala dua. Artinya, sudah hampir 21 tahun aku ada. Sudah hampir 21 tahun aku belajar mengenal apapun di sekitarku. Menyelami hidupku. Semua nampak serasi dan wajar. Mudah-mudah saja memahami itu semua. Hanya ada satu yang sampai sekarang aku belum paham; makhluk yang bernama perempuan..

Mungkin tidak berlebihan jika aku bertanya, “apa itu perempuan?” Akan ada banyak versi jawaban yang aku yakin tersirat di benak kita semua dengan lontaran pertanyaan macam itu. Mengapa tersirat? Ya karena pertanyaan ini retoris. Andai tertulis, tentu butuh jutaan galon tinta hanya untuk menjawab secara komplit pertanyaan sesederhana itu.

Ibuku juga perempuan. Setahuku dialah yang membesarkan aku. Membelaiku ketika aku sedih. Melindungiku ketika dalam bahaya. Selalu berusaha memberikanku yang terbaik dari kedua belah tangannya. Dan dialah makhluk perempuan pertama yang aku kenal. Bahkan meski makhluk pertama yang paling dekat denganku adalah perempuan dan aku telah dilahirkan dari rahimnya hampir 21 tahun yang lalu, kini tetap saja bercokol pertanyaan itu; “apa itu perempuan?”

Makin ku beranjak dewasa bukannya aku makin tahu dan mengenal mereka. Justru aku makin bingung dibuatnya. Mereka bertebaran di mana-mana. Sedari TK hingga kuliah kini, tetap saja ada makhluk yang bernama perempuan itu. Aku tahu. Aku hafal nama-nama sebagian dari makhluk itu. Alamatnya, nomer henphonenya, hobinya, kesukaannya, hingga wajahnya pun aku hafal betul. Tapi itu semua tidak mampu menjawab pertanyaan; “apa itu perempuan?”

Tingkah mereka aneh. Banyak variannya. Udah cengeng. Cerewet. Gampang marah. Mudah tersinggung. Pemalu. Sok imut. Sok suci. Ahh, terlalu ‘lebaiy’ untuk dijabarkan semuanya. Terlalu buang waktu pula untuk membahas ini semua. Apalagi sifat ini berubah-ubah berdasarkan siklus bulanan mereka. Ahh, benar-benar makhluk yang unik.

Sebagian dari mereka memang menarik. Tapi sebagian dari mereka juga menyebalkan. Cukup menyebalkan malah. Tak sedikit yang overprotektif; benar2 say no to lelaki! Tapi ada juga yang berbangga ria dikerubuti kaum lelaki, open2 saja dengan semua lelaki. Benar-benar dikotomi yang luar biasa membingungkan.

Cukup sesak hati ini untuk berbesar hati mengejar mereka, apalagi dengan anomali yang mereka timbulkan. Cermati saja, bukankah sudah sunnatullah-nya ya ayam jantan mengejar ayam betina? Lihat juga bunga kamboja yang menarik hati lebah madu. Tapi sekarang kita lihat makhluk bernama perempuan, justru terkadang merekalah yang sengaja mencari mangsa di sana sini hingga dunia ini berasa terbalik. Apa ada bunga yang mengejar kumbang atau ayam betina yang menggoda ayam jantan memintanya untuk dikawini?? Lebih ekstrem lagi mereka sekarang mulai berani memperkosa kaum lelaki. Apa? Memperkosa?? Nggak ada vocab yang lebih sadis lagi kah?? Hmm, kata ‘memperkosa’ selalu saja diartikan laki-laki yang meruda paksa seorang perempuan. Selalu ada kata ‘paksaan’ dan ‘kekerasan fisik’. Apa dengan makna yang sama kita mengartikan perkosaan yang dilakukan oleh perempuan?? Tidak sama sekali. Perkosaan kaum perempuan lebih kepada cara mereka bersikap di depan laki-laki. Cermati ketika makhluk perempuan ini datang pada seorang laki-laki yang kontrakannya sedang kosong dengan pakaian yang minim dan sikap yang menggoda. Apa yang akan terjadi? Naudzubillah. Inilah perkosaan pada laki-laki. Belakangan pun makhluk ini pengen sejajar jadi imam sholat berjamaah menggantikan posisi imam laki-laki. Lebih parah lagi makhluk ini pernah jadi presiden negeri ini dan kini ia mau menjajalnya kembali. Inikah emansipasi yang mereka sodorkan? Benar-benar anomali yang luar biasa. Tentunya koridor emansipasi semestinya tidak menyinggung hukum sunnatullah, apalagi mencoba mematahkannya.

Tapi entahlah. Bagiku mereka tetap makhluk yang aneh. Apapun yang mereka kerjakan.
Mungkin butuh jutaan watt listrik untuk menghidupkan ribuan lampu demi menerangi makhluk ini supaya lebih jelas lagi. Lampu lilin sebiji yang kubawa ini benar-benar hanya remang-remang saja. Ahh, andaipun bisa aku pengen mengerti. Andaipun bisa aku pengen memahami. Apatah daya?

Bagiku perempuan tetap saja begitu. Tetap misterius.

Read More ...
Powered by Blogger.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP