9.7.12

Gula-Gula Hati dalam Secangkir Kopi


Kopi berisi sejengkal kepahitan, dan beribu-ribu ton candu. Memikat hati dengan aromanya yang membuai. Tandem dengan sedasi kecil-kecil yg membuncahkan asa di hati. Cukup sesruput, dan itu sudah membuatmu ingin menaklukkan dunia.

Tak usah bertanya mengapa aku menyukai kopi. Karena aku bakal balik bertanya padamu mengapa kau menyukai tidur siang, naik gunung, atau sekedar menyanyikan lagu dengan gitar bututmu. Diplomasi tak akan memberi jawaban memuaskan mengapa hobi hadir di bumi. Tuhan lebih tahu jawabannya dengan memberimu ‘sepasang hati’ yang lembut di sebelah kanan lambungmu itu. Sepasang hati?

Read More ...

6.5.12

Taburan Bintang di Atap Kamar


Jutaan bintang bertaburan menghiasi supermoon. Kilaunya memikat hati, seakan lengkap menghiasi sang rembulan yang memang terlihat lebih besar, dengan paras cantik yang nampak tersipu malu menyambut jutaan pasang mata yang menyaksikannya. Bulan memang primadona malam ini, tapi kerlip hamparan bintang di langit yang bersih bagaikan permadani yang luar biasa luas, cukup memukau dan memanjakan ketentraman hati bagi siapapun yang memandangnya. 

“Bintang di langit, kerlip engkau di sana. Memberi cahayanya di setiap insan..” 
Lagu ini keluar begitu saja mengiringi euforia ketakjuban panorama malam yang mengagumkan. Tiba-tiba entah darimana, memoriku terbawa pada sederet kata-kata ‘orang penting’ negeri ini: “Indonesia ini aneh, kita diajari belajar tinggi, bercita-cita tinggi, harapan yang muluk-muluk setinggi bintang di langit. Tapi kita tidak diajari mengenal apa itu kekecewaan. Padahal di balik setiap harapan dan cita-cita, selalu ada kekecewaan”

Itu adalah kata-kata Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang terkenal ‘nyeleneh’ dan kritis dalam suatu acara TalkShow layar kaca beberapa saat lalu. Kata-katanya praktis menempatkan dirinya secara frontal bertentangan dengan arus paradigma pendidikan negeri ini. Bukankah sedari SD kita disuruh untuk menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang di langit?

Read More ...

7.12.11

Goresan Keabadian

Kopi masih mengepul hangat. Aromanya begitu harum. Rinai hujan di luar membuat nikmatnya sore ini kian lengkap saja. Suara hujan dan pahitnya kopi, satu kombinasi paling menakjubkan. Semacam duet maut yang menalu-nalu, membuat jiwa ini serasa damai. Nuansa yang sekaligus menyodorkan berton-ton candu, seakan-akan banyak hal yang serta merta ingin kulakukan.

“Capucino memang yang paling mantab..” gumamku sembari iseng menengok beberapa status sahabat pena di facebook. Tiba-tiba perhatianku terhenti sejenak pada sebuah status. Coba simak:

"Teruslah menulis, sejelek-jeleknya tulisanmu pasti ada yang memuji, dan sebagus-bagusnya tulisanmu pasti ada yang mencela." Kesimpulannya adalah lebih baik kita berusaha menulis untuk menuangkan segala Ide, daripada hanya mengendapkannya di otak dan merasa minder tidak mampu menggoresnya dan mencurahkannya. Tentu saja, Pak Mario Teguh pernah bilang; "Lebih baik kau mengalami kegagalan daripada hanya membayangkan kegagalan dan tidak bertindak sedikitpun."

Read More ...

12.11.11

Renungan: Antara Ada dan Tiada

Genangan itu kian luas. Dipandanginya pelataran rumah yang kini dipenuhi kubangan lumpur, basah karena hujan. Petir masih sesekali menderu bersahutan, menggelegar dari sudut-sudut mendung yang pekat kelabu di atas sana.  Tiba-tiba, tetesan air dari beranda rumah yang bocor mengejutkan lamunannya. Bowo terperangah.

Entah sudah berapa lama ia tepekur di kursi goyang butut, memandangi halaman rumahnya yang sedang bermandi hujan. “Arteta,. Oh Arteta..” gumamnya sembari menyeka dahinya yang basah karena tetesan hujan.  Dihisapnya batang tembakau itu dalam-dalam. Berharap kehangatan di dadanya dapat menyeka kegalauan hatinya. Entah sudah batang yang ke berapa. Tembakau memang bakal merongrong usianya, sebagai seorang dokter ia tahu betul akan hal itu, tetapi masalah yang ia hadapi terasa lebih penting daripada sebuah urusan hidup dan mati.


Sudah seminggu berlalu semenjak Arteta, kekasih hati yang ia dambakan pergi meningalkan dirinya. Namun bukan itu yang menyesakkan batinnya. Keanehan demi keanehan yang ia hadapi akhir-akhir ini membuat hidupnya tidak tenang. Hal yang sukar dimengerti logika. Mungkin ini salah satu bukti bahwa ketulusan cinta mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Menembus akal sehat yang membuat kita terperangah.  Berikut adalah kisah nyata antara Bowo dan Arleta (bukan nama sebenarnya) yang terjadi baru-baru ini di wilayah Jawa Barat. Alamat, rincian kejadiannya juga turut disamarkan demi menghormati keduanya yang juga teman sejawat satu profesi dengan penulis.

Read More ...

11.11.11

Saat Hujan Membasahi Hati, Tukang Cukur Pun Tersenyum

Khas. Begitulah aroma hujan. Sensasional dan entah mengapa aromanya laksana kafein saja, membuatku ingin melakukan banyak hal. Nada hujan memang tidak semerdu musik pop, tetapi rintikannya kala menyapa genting, menegur dedaunan di luar sana, dan saat akhirnya harus berjibaku dengan bumi yang tak pernah haus melahap jutaan galon cucuran hujan dari atap-atap langit seakan memberikan nuansa yang merindukan. Sejuk dan damai, sehenyak berdesir hati ini. Mungkin hanya dua hal yang ingin kulakukan kala hujan menyapa: tidur nyenyak dengan berselimut kehangatan, atau tetap terjaga dengan secangkir kopi hangat di meja.

Read More ...
Powered by Blogger.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP