Suasana
tiba-tiba lengang dengan sebersit nuansa kejawen yang sarat mistik dan bagaikan
sihir, semua mata terpesona. Aroma diskusi politik yang memang lumrahnya panas
dan tegang tiba-tiba saja sekian detik berubah sunyi mencekat. Nuansa dingin sekonyong-konyong
menyeruak begitu saja. Jakarta Lawyers Club malam ini terasa begitu lain
tatkala dua figur tokoh wayang Semar dan Togog tiba-tiba saja dihadirkan di
tengah diskusi.
“Lihatlah,
lihat dengan mata batin.. Mana yang lebih terasa sejuk di hati? apakah Togog,
ataukah Semar? Dalam pewayangan kita memang sudah tahu, Togog itu pengikut
kebathilan dan Semar adalah pengikut kebenaran. Tapi cobalah berandai-andai misal
kita sedari awal tidak tahu mana yang orang benar dan mana yang orang salah, maka
Anda semua pasti tetap bisa merasakan, dari tutur kata, sikap, tindak-tanduk,
pola pikir,. mana dari kedua figur ini yang lebih sejuk?”, logat khas bak
dalang kondang terdengar lantang.
Ia
melanjutkan, “Sudah, jangan katakan Anda milih mana dari dua figur ini, mana
yang lebih nyess, lebih nyaman disawang, simpan di hati Anda
masing-masing. Ini karena memang bukan untuk diutarakan.. Inilah ngilmu rosoning ati. Ditularkan blood to blood. Yang mana tiap dari kita
pasti punya. Kalau partai Demokrat orang-orangnya ‘terasa’ seperti ini (Togog)
lebih banyak ketimbang yang ini (Semar), maka sudah saatnya revolusi terjadi.
Itu tinggal menunggu waktu.” Dengan tatapan sangar, matanya yang mblorok menerawang dua figur di
tangannya itu bergantian dengan mimik sedemikian rupa. Seakan menelanjangi
keduanya di depan para narasumber dan penonton agar dapat terlihat lebih jelas.
Read More ...