11.9.11

Ketika Burung Sriti Hinggap di Hati

Udara begitu bersih. Hamparan sawah hijau membentang luas di depanku. Terasa begitu mempesona dengan latar birunya langit yang lengkap dihiasi awan-awan kecil lamat-lamat yang seolah-olah malu bertengger di atas sana. Sedang suara riak sungai terdengar menggelitik, dengan air jernih yang mengalir berliku-liku mengitari ladang persawahan dan jembatan mungil tepat di mana aku berada sekarang. Sembari menunggu jemputan untuk kontrol di RS, aku menyempatkan untuk sekedar menikmati suasana pagi ini. Sengaja kuposisikan kursi rodaku sedemikian rupa, sehingga tepat menghadap padang luas areal persawahan, dan kini kubisa dengan leluasa menikmati nuansa kedamaian yang luar biasa itu.

Sebenarnya bukan hanya panorama pagi ini yang memikat hatiku. Yang membuatku betah berlama-lama, yang membuatku sekejap merenung. Tahukah kau kawan apa itu? Ada ratusan burung sriti terbang mengitari areal persawahan tidak seberapa jauh dari tempatku berada. Begitu banyaknya sehingga menyuguhkan pemandangan tersendiri. Mereka terbang melayang kesana kemari dengan begitu bebasnya. Berlomba saling berebut mangsa dengan begitu bersemangat. Badannya yang hitam mungil itu menjerat mataku untuk sekedar memandangnya barang sekejap satu-satu. Jelas karena begitu banyaknya menjadikanku sukar mengamatinya dengan baik. Tapi di benakku, nuansa keriangan kental terasa di sana. Ahh, andai ku juga bisa bebas seperti mereka.

Tiba-tiba, dalam sekian detik aku terpaku. Hatiku berdesir hebat, merasa tergagap akan sesuatu. Sekonyong-konyong aku menyadari bahwa kini aku terpekur di kursi roda ini. Tak bisa bebas seperti burung-burung sriti itu, terbang dengan begitu bebasnya. Terbang dengan begitu riangnya. Terbayang kala dulu sebelum patah kaki kanan ini, begitu mudahnya berjalan, berlari, menaiki tangga. Tapi kini? Kemana-mana harus dibantu sepasang krek, kebutuhan makan, mandi, buang air begitu terasa sukarnya, berjalan pun tak bisa secepat dulu. Jangankan berjalan, tidur saja kadang masih harus meringis menahan ngilu dan pedih yang acap kali mendera. Ini semualah yang kurasakan setelah ‘hanya sekedar’ patah kaki ini hadir. Ternyata nikmat tuhan itu begitu terasa ketika suatu hal itu telah tiada. Bahwa berjalan ataupun berlari mungkin banyak dari kita yang bisa melakukannya. Namun coba bayangkan apa yang terjadi jika tiba-tiba saja nikmat itu terambil? Bisakah kita bekerja dengan baik? Bisakah kita melakukan rutinitas harian kita dengan leluasa? Bisakah kita menjalani hidup seperti sedia kala? Padahal kita sering kali menganggap bahwa perihal berjalan itu sebagai sesuatu yang sepele dan kecil.

Dan saat ini, burung-burung sriti itu telah menyadarkanku. Bukan saja pada nikmat tuhan tentang berjalan ataupun berlari, tapi lebih dari itu. Bahwa nikmat tuhan teramat banyak. Namun realitanya, kita sangat sedikit mengucap syukur. Begitu luar biasanya nikmat itu tetapi acap kali hati kita terlalu dekil dan keras untuk menyadarinya. Dan banyak dari kita baru menyadari akan pentingnya nikmat itu tatkala nikmat itu telah dicabut. Malah kadang kita terlalu sombong untuk mengakui limpahan nikmat dan karunia itu. Pernahkah kita mengucap syukur setelah mandi? setelah menenggak segelas es teh di kala terik? atau sekedar sampainya kita ke kampus setelah jalan 5 menit dari kos-kosan?

Laksana teori gelas yang ½ nya berisi dan ½ nya lagi kosong. Mana persepsi pemikiran yang mau kita ambil: “Sip sip, masih ada setengah cahh..”? ataukah “waduh, tinggal setengahnya doank..”? Mana yang terdengar lebih indah dan optimis? Inilah refleksi terbaik dari cara pandang kita terhadap sesuatu dan lekat menggambarkan sejauh mana kita bersyukur. Di situ pulalah letak seberapa pandai kita mensyukuri nikmat. Percayalah kawan, bahwa Gusti Allah tidak sare, hidup pasti bergulir dan bagaimana kita memandang suatu persoalan menentukan seberapa kuat diri kita menghadapi stressor. Ketika kita pandai bersyukur, Allah pasti menambah nikmatNya bagaimanapun keadaan kita, dan itu akan menguatkan diri kita. Allah tidak pernah memberikan suatu cobaan melebihi kemampuan seseorang. Hingga mestinya hanya kepadaNya-lah seharusnya kita berkeluh kesah ketika beban hidup ini mulai terasa berat..

Maka syukurilah hidup ini kawan, entah bagaimanapun keadaannya. Yakinlah kelak berbuah manis karena Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan.. Terimakasih burung sriti, kehadiranmu menyingkapkan tabir pelajaran yang begitu berharga pagi ini. Hingga bisa kutuliskan dalam deretan kata-kata ini. Semoga memberi manfaat buat kita semua..


Tulisan ini telah dipublikasikan dalam shvoong. Juga didedikasikan kepada kawanku, adik tingkatku, teman sejawatku, Lutfi Azizatunnisa (@LuthfiNiza), yang kini juga harus beristirahat sejenak dari studinya dikarenakan masih dalam taraf recovery pascacedera KLL. Semoga dikuatkan dan ditabahkan oleh Allah SWT. Amin

Powered by Blogger.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP