30.10.11

Bumi Menua di Pelukanmu

Matahari pun meredup jengah, tak kuasa peraduannya direnggut paksa. Gumulan hitam itu mulai meringsek langit Jogjakarta. Bagaikan ombak dengan berton-ton jelaga, mendung hitam sekonyong-konyong menghampar cakrawala. Mendekap kota tua yang telah sekian lama gersang dari buaian rintik hujan. Kerinduan itu hampir datang. “Ah, hampir hujan”, gumamku. 

Ya begitulah. Hujan bagaikan emas yang selalu dinanti. Namun sayangnya, meski akhir-akhir ini hujan sering datang, tetapi tidak begitu lama, hari tetap berlanjut terik yang menyengat dan sangat menyebalkan. Cuaca yang tidak menentu membuat banyak hal berubah. Sadarkah kita? Mungkin akhir-akhir ini diantara kita ada yang lebih cenderung suka air es, konsumsi minuman dingin meningkat, jadwal mandi berubah menjadi 3x sehari atau lebih, lebih sering berganti baju, atau bahkan mematung di depan kipas angin hingga berjam-jam?

Itu bagi kita. Bagi dunia? Suhu bumi kian meningkat, es kutub mencair, banyak biota tergusur dan punah, dan masih banyak lagi rentetan dongeng akibat pemanasan global. Ya, beberapa fakta itu lebih mirip dongeng ketimbang sebuah hal genting yang mengejutkan bagi kita. Entah apa cara penyampaiannya yang salah, atau memang hati manusia yang mengeras termasuk efek dari pemanasan global? Indonesia sudah masuk Guiness Book of Record. Mungkin kita akan langsung berpikir hal itu sebagai sebuah kebanggaan. Padahal kita telah tercatat berprestasi dalam melumat hutan di mana tiap jamnya, seluas 300 lapangan sepak bola hutan di Indonesia terbabat habis. Memalukan? Ataukah sebuah kebanggaan? Mungkin memang penelitian terkait hubungan efek pemanasan global terhadap kerasnya hati manusia harus dilakukan. Penelitian yang terdengar lebih sebagai anekdot retoris bernada sarkastik.

Konsep Go Green terlampau rumit dijalankan. Terlalu konseptual dan hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang fanatik terhadap kelestarian alam. Yang tidak paham bisa jadi turut serta pula dalam kegiatan Go Green: Pabrik-pabrik dicat hijau, cerobong asap dicat hijau, mobil, motor, dan kereta api dicat hijau, Mall dan Supermall dicat hijau,. “Go Green!! Ya.. Hidup Go Green!!”. Haha. Bukankah itu masih sejalan dengan slogan Go Green? Sangat mengawan, jauh dari akar rumput, dan tidak merakyat. Bisa-bisa kebodohan seperti itu menjadi demam dan latah yang berlarut-larut.

Lalu rumus apa yang harus dijalankan untuk menghentikan laju pemanasan global? Ya setidaknya cuaca bisa dihitung lagi secara matematika; April – September kemarau, Oktober-Maret penghujan. Atau setidaknya bisa mengembalikan cuaca supaya tidak separah ini? Adakah rumusan itu? 

Sayang seribu sayang. Jawabannya adalah tidak ada. Kita hidup adalah mengenyam dunia yang sedang dalam proses menua. Ia ‘sedang mati’. Tak usah terlalu idealis, sefanatik apapun usaha yang kita kerjakan, tak akan mengubah kondisi bumi menjadi lebih baik, bahkan mengembalikannya lebih baik satu detik yang lalu sekalipun. Kita hanya bisa memperlambat laju kematiannya saja. Bukan berarti pasrah, tulisan ini hanya ingin melukiskan betapa egoisnya manusia. Betapa tamaknya manusia hingga melacurkan habitatnya sendiri. Kita mengeluh mengenai hal buruk yang sebenarnya kita buat sendiri. Ini adalah kontribusi estafet dari pendahulu kita dan secara teori, kita ulangi secara teori, bilamana kita bisa menghentikan estafet buruk kelakuan kita, maka dampak pemanasan global itu akan terhenti. 

Tapi begitulah teori. Ia akan selalu menjadi kajian yang renyah dipelajari dan diperdebatkan di bangku kuliah. Tidak lebih. Senyatanya  teori-teori itu tak mampu menghambat laju pembabatan hutan. Kuliah itu sendiri membutuhkan kertas yang mau tidak mau didapat dari pembabatan hutan. Lucu bukan? Kita berkutat pada hal yang sia-sia. Teori-teori itu tak mampu menghambat eksploitasi minyak. Mungkin memang suatu saat eksploitasi minyak berhenti. Namun bukan karena teori-teori itu, tetapi karena memang cadangan minyak sudah habis dan bumi sudah dalam kondisi terpuruk. Begitulah, bisakah manusia berhenti total dari rokok, AC, sabun mandi, maupun komputer? Cukup. Semua dari kita tentu tidak mau kembali menjadi tarzan yang sohiban dengan gorilla dan gemar memakan pisang di hutan. Akuilah bahwa manusia adalah makhluk paling munafik di muka bumi ini. Keberadaanya hanya akan memberi kerusakan bagi bumi ini.

“Malaikatpun bertanya: “Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah 30)

Nah mungkin ayat inilah yang mendinginkan kita. Sebagaimana hujan siang ini yang mulai deras turun membasahi bumi. Eksistensi manusia memang digariskan begitu. Bukan berarti tulisan ini mengkambinghitamkan sebab pemanasan global pada garis takdir Tuhan, tetapi lebih diperuntukkan bagi kita untuk memaknai gejala alam sebagai tanda kebesaran Tuhan. Cintai bumi kita, paling tidak kesadaran kita akan memberinya nafas panjang sekali lagi.. Heal the world


tulisan ini juga telah dipublikasikan dalam shvoong.com

Powered by Blogger.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP