7.12.11

Goresan Keabadian

Kopi masih mengepul hangat. Aromanya begitu harum. Rinai hujan di luar membuat nikmatnya sore ini kian lengkap saja. Suara hujan dan pahitnya kopi, satu kombinasi paling menakjubkan. Semacam duet maut yang menalu-nalu, membuat jiwa ini serasa damai. Nuansa yang sekaligus menyodorkan berton-ton candu, seakan-akan banyak hal yang serta merta ingin kulakukan.

“Capucino memang yang paling mantab..” gumamku sembari iseng menengok beberapa status sahabat pena di facebook. Tiba-tiba perhatianku terhenti sejenak pada sebuah status. Coba simak:

"Teruslah menulis, sejelek-jeleknya tulisanmu pasti ada yang memuji, dan sebagus-bagusnya tulisanmu pasti ada yang mencela." Kesimpulannya adalah lebih baik kita berusaha menulis untuk menuangkan segala Ide, daripada hanya mengendapkannya di otak dan merasa minder tidak mampu menggoresnya dan mencurahkannya. Tentu saja, Pak Mario Teguh pernah bilang; "Lebih baik kau mengalami kegagalan daripada hanya membayangkan kegagalan dan tidak bertindak sedikitpun."


Sempat beberapa detik tertegun. Luar biasa. Begitu menyentuh. Terbersit poin penting di dalamnya. Bahwa pendewasaan itu butuh proses, dan pantang menyerah adalah kuncinya. Termasuk dalam hal menulis.

Facebook itu penuh tulisan. Mengomentari foto, video, atau update status, memakai tulisan bukan? Apalagi social site semacam twitter yang mana kita butuh ‘putar otak’ untuk sekedar ‘berkicau’ di sana dengan keterbatasan 140 karakter huruf, bahasa apa yg kita gunakan? Lagi-lagi tulisan bukan? SMS pun begitu. Koran, majalah, bahkan musik pun butuh dituliskan supaya dapat dimainkan banyak orang. Sebenarnya tulisan memiliki posisi penting dalam hidup kita. Sadarkah kita?
Cobalah iseng membuka status facebook atau Timeline Twitter kita setahun atau dua tahun yang lalu. Pasti senyum bakal mengembang. Terpingkal-pingkal mungkin malahan. Itulah tanda adanya perubahan pola tulisan kita. Bagaimana kita berbahasa, berkomunikasi, saling berkomentar, begitu jelas perbedaannya antara dulu dengan sekarang. Itu sekedar tulisan ringan yang easy going semata. Tetapi hal itu pulalah yang terjadi pada tulisan-tulisan kita yang lebih ‘serius’, seperti blogging, web hosting, ataupun tulisan amatiran hingga buah tangan penulis besar professional di segala bidang sekalipun. Pasti terjadi pendewasaan di sana. 
Halah, buat apa susah-susah menulis ‘lebih serius’? 


Sadarkah kita, menulis adalah kegiatan yang paling bermanfaat. Kita mungkin bisa berbagi, apapun itu; kisah, pengalaman, bahkan sharing bisnis maupun curhat sekalipun, dengan bercerita mungkin? Ya. Kita butuh mengulang-ulang cerita kepada tiap orang yang kita jumpai. Sangat menjemukan dan membuang waktu bukan? Padahal waktu yang terbuang itu dapat kita gunakan untuk membuat tulisan yang lain. Bahkan dengan menuangkan segala hal dalam bentuk tulisan, 100 tahun lagi setelah kita tiada mungkin tulisan kita masih bisa dibaca dan diakses. Artinya jika tulisan kita memiliki manfaat, maka hingga akhir zaman pun kita masih bisa memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah itu luar biasa? 

Itulah mengapa muncul istilah ‘aku menulis, maka aku ada’. Kita memang bukan siapa-siapa di dunia ini, namun dengan menulis, kita ada dalam makna sebenarnya. Sebab menulis bagaikan mengukir prasasti diri. Tidak ada bahasa tulisan yang sama persis. Seperti sidik jari, tulisan akan meninggalkan jejak siapa diri kita di dunia ini. Tentu karena tiap-tiap tulisan memiliki gaya bahasa tersendiri, ia menunjukkan karakter diri siapa penulisnya. Jika kemudian kita menjadi salah seorang penulis ternama, syukuri saja, tapi sebenarnya bukan itu esensi dari menulis.

Menulis disamping mengasah otak, ia memberi pembelajaran tersendiri. “Teruslah menulis, sejelek-jeleknya tulisanmu pasti ada yang memuji, dan sebagus-bagusnya tulisanmu pasti ada yang mencela.” Tak usah hiraukan anggapan orang, tulis dan teruslah menulis. Seekstrem-ekstremnya tulisan kita jika ia tak memberi manfaat pada siapapun, ia akan memberi manfaat pada diri kita sendiri. Beranikan share, entah seberapapun keadaan tulisan itu, biarkan orang berkomentar. Bacalah kembali tulisan-tulisan kita yang telah lalu dan lihat, pelan tapi pasti, karakter tulisan kita akan beranjak berubah dengan sendirinya. Biarkan naluri kita menuntunnya. Trust me, its work!

Satu hal yang tak kalah penting, menulis adalah mendewasakan. Bagaimana bisa? Menulis itu butuh rasa lho. Bagaimana pola alur pikir, bagaimana diksi, bagaimana majas serta intonasi yang kita pakai. Itu semua membangun karakter yang sebenarnya mencerminkan pribadi penulisnya. Bukan berarti orang yang dewasa dalam pola pikir selalu bisa menulis, tetapi dengan terus menulis, itu akan mendewasakan pola pikir kita.
So, buat apa ragu untuk mulai menulis? Baca lagi status di atas:

"Lebih baik kita berusaha menulis untuk menuangkan segala Ide, daripada hanya mengendapkannya di otak dan merasa minder tidak mampu menggoresnya dan mencurahkannya. Tentu saja, Pak Mario Teguh pernah bilang; "Lebih baik kau mengalami kegagalan daripada hanya membayangkan kegagalan dan tidak bertindak sedikitpun."

Hujan makin deras, dan kopi secangkir ini juga sudah hampir habis. Senang rasanya bisa berbagi sore ini. Selamat sore kawan dan mari berlomba mengukir prasasti diri. Mari hiasi dunia dengan tulisan kita. Tunjukkan pada dunia bahwa kita ada. Aku menulis, maka aku ada.


*Terimakasih kepada sahabatku Langga Gustanto (Musafir Pena bin Langga), seorang cerpenis muda berbakat, atas update statusnya yang sangat inspiratif. Terus berkarya, dan sukses selalu!

Tulisan ini juga telah dipublikasikan via shvoong.

Powered by Blogger.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP